Cerita Sex ML Dengan istri Teman Kantor

Cerita Sex ML Dengan istri Teman Kantor Paling HOT - Kumpulan kisah Cerita Sex, Pada sharing cerita dewasa kali ini yang berjudul Cerita Sex ML Dengan istri Teman Kantor, saya telah menyediakan kisah romantis lengkap dengan gambar. mudah-mudahan isi postingan cerita sex dewasa yang saya tulis ini dapat anda nikmati. okelah, selamat membaca.

Foto Cerita Sex ML Dengan istri Teman Kantor HOT

Cerita Sex ML Dengan istri Teman Kantor - Tempat Berbagi Cerita Dewasa, Cerita Sex Terbaru 2016, Cerita Sex Tante-Tante, Cerita Sex ABG, Cerita Sex Sedarah, Foto HOT, Foto Sex, Foto Dewasa, Foto ABG Sange, Foto Gadis Hyper Sex, Foto SPG Bugil, Koleksi Memek Tante Girang -  Gue sesungguhnya gak enak hati menagih utang pada sobatku dekat ku ini. Tetapi, apa boleh buat kondisiku juga sangat tertekan, gue beranikan diri dengan harapan kawanku bisa membayar; paling enggak setengahnya dulu. Dengan kecewa berat, Gilang, sobatku yang usia pernikahanya baru setengah tahun lalu ini, tidak sanggup untuk melunasi sedikitpun. Apa boleh buat gue tau kondisinya saat ini. Ia maried pun disebabkan dorongan ortunya Luna, yang sekarang sudah jadi istrinya. Gilang sendiri, hingga kini belum mempunyai kerjaan tetap.
Cerita Sex ML Dengan istri Teman Kantor
Cerita Sex ML Dengan istri Teman Kantor

Cerita Sex ML Dengan istri Teman Satu Kantor



Cerita Sex - Karena hari sudah larut, aku tahu diri, segera permisi pada Gilang.

"Gua jadi enggak enak nih.."
"Sudahlah Ta. Gua gak apa-apa koq. Gua cuma nyoba aja, barangkali ada," aku menukasnya, takut membuatnya jadi beban pikiran.
"Ma, gua mau bisikin sesuatu..' tiba-tiba Gilang mendekatkan mulutnya ke arah telingaku. Dan aku benar-benar terkejut, ketika Gilang menawarkan istrinya untuk kutiduri.
"Gila lu.. Sialan.." ucapku.
"Sstt.. Jangan berisik. Gua juga kan ingin balas budi sama elu. Soalnya elu udah banyak berbuat baik sama gua. Gak ada salahnya kan, kalau kita saling berbagi kesenangan.." begitulah ucap Gilang dengan serius.

Memang diam-diam sudah sejak lama aku selalu memperhatikan Luna. Bahkan aku pun memuji Gilang, bisa mendapatkan gadis secantik Luna. Selain posturnya yang tinggi, Luna memiliki kulitnya yang putih dan mulus. Tubuhnya menggairahkan. Memang selalu terbungkus rapat, dengan baju yang longgar. Namun aku dapat membayangkan, betapa kenyalnya tubuh Luna.

Baru melihat wajah dan jemari tangannya pun, aku memang suka langsung berpantasi; membayangkan Luna jika berada di hadapanku tanpa busana. Lalu Luna kugumuli dengan sesuka hati. Namun untuk berbuat macam-macam, rasanya kubuang jauh-jauh. Karena aku sangat tahu, Luna itu orang baik-baik, dan keturunan orang baik-baik pula. Lihat saja penampilannya, yang selalu terbungkus sopan dan rapi.

"Lu serius, Na? Bagaimana dengan Luna? Apa dia mau?" aku pun akhirnya mulai terbuka.
"Kita pasang strategi, donk! Kalau secara langsung, jelas istri gua kagak bakalan mau," jawabnya.
"Gimana caranya?" aku penasaran.

Gilang kembali membisikan lagi rencana gilanya. Aku memang sangat menginginkan hal itu terjadi. Sudah kubayangkan, betapa nikmatnya bersetubuh dengan perempuan aduhai seperti Luna.

"Luna..! Luna..! Lunaa..!" Gilang memanggil istrinya.

Dan tanpa selang waktu lama, Luna ke luar dari dalam kamarnya dengan dandanan yang tetap rapat.

"Ada apa, Bang?" tanya Luna.
"Tolong belikan rokok ke warung..!" kata Gilang sambil merogoh uang ribuan ke dalam sakunya.
"Baik, Bang," Luna menerima uang itu, lalu ke luar.

Gilang segera menyuruhku masuk ke dalam kamarnya, seraya masuk ke kolong ranjang. Aku mau saja, berbaring di tembok dingin, di bawah ranjang. Lalu Gilang ke luar lagi. Pintu kamar, tampak masih terbuka.

Tidak lama kemudian, terdengar suara Luna yang datang. Mereka bercakap-cakap di ruang tamu. Dan Gilang mengatakan kalau aku sudah pulang, karena ada ditelepon sama bos-ku. Luna kedengarannya tidak banyak tanya. Dia tak terlalu mempedulikan kehadiranku. Hingga suara pintu yang dikunci pun, bisa terdengar dengan jelas.

Kulihat dua pasang kaki memasuki kamar. Pintu ditutup. Dikunci pula. Bahkan termasuk lampu pun dimatikan, sehingga mataku tak melihat apa-apa lagi. Yang kudengar hanya suara ranjang yang berderit dan suara kecupan bibir, entah siapa yang mengecup. Lalu ada juga yang terdengar suara seleting celana, dan nafas Luna yang mulai tak beraturan. Pluk, pluk, pluk.. Sepertinya pakaian mereka mulai dilemparkan ke lantai, satu persatu.

"Emh.. Ah.. Uh.. Oh.." Jelas, itu suara milik Luna.
"Euh.. He.. Euh.." nah kalau itu, suara Gilang.

Tampaknya mereka sudah mulai bercumbu dengam hebatnya. Ranjang pun sampai bergoyang-goyang begitu dahsyat.

"Emh.. Akh.. Ayo Bang.. Aduuh ss.." suara Luna membuat nafasku bergerak lebih kencang dari biasanya.

Aku bisa merasakan, Luna sedang ada dalam puncak nafsunya. Aku sudah tidak tahan mendengar suara dengusan nafas kedua insan yang tengah memadu berahi ini. Hingga aku mulai membuka celanaku, bajuku dan celana dalamku. Aku sudah telanjang bulat. Lalu aku bergerak perlahan, ke luar dari tempat persembunyian, kolong tempat tidur.

Meski keadaan sangat gelap, namun aku masih bisa melihat dua tubuh yang bergumul. Terutama tubuh Luna, yang putih mulus. Gilang sudah memasukan penisnya, dan sedang memompanya turun naik, diiringi desahan nafas yang tersengal-sengal. Konvensional. Luna sepertinya lebih menikmati berada di posisi bawah, sambil kedua tangannya memeluk erat tubuh Gilang, dan kakinya menjepit pantat Gilang. Aku mulai tidak tahan.

Tiba-tiba Gilang semakin mempercepat pompaannya. Ranjang bergoyang lebih ganas lagi. Dan suara erangan tertahan Luna semakin menjadi-jadi.

"Emh, emh, emh, emh.. Ah.. Oh.." Hanya itu yang keluar dari mulut Luna, karena mulutnya disumpal oleh mulut Gilang. Dan akhirnya.
"Agh.. Agh..!" suara Gilang mengakhiri pendakian itu.

Namun tampaknya Luna belum selesai. Terbukti, kakinya masih menyilang erat, mengunci paha Gilang, agar tak segera mencabut penisnya. Tetapi apa hendak dikata, Gilang sudah lemas. Ia tergolek dengan nafas yang lemah-lunglai.

Kesempatan inilah, saatnya aku harus masuk. Demikian yang direncanakan Gilang tadi. Maka tanpa ragu lagi, aku segera melompat ke atas ranjang. Meraih tubuh Luna dan langsung menindihnya. Tentu saja Luna terpekik kaget.

"Siapa Kau..! Kurang ajar..! Pergi..! Ke luar..! jangan..! setaan..!" Luna berontak. Ia sangat marah tampaknya.
"Luna, aku punya hutang pada kawanku. Berilah ia sedikit kesempatan.." Gilang yang menjawab, sambil mengelus rambutnya.
"Biadab..! Aku tidak mau..! Lepaskan..! *******..!" Luna mendorong tubuhku.

Namun karena nafsuku sudah memuncak, aku tak mungkin menyerah. Kutekan lebih keras tubuhnya, sambil tanganku berusaha menuntun agar penisku segera masuk. Luna tetap meronta. Luna berkali-kali meludahi mukaku. Tetapi aku diam-diam menikmatinya. Bahkan ludahnya malah kusedot dari bibirnya, dan kutelan.

Meskipun liang vagina Luna sudah licin, namun penisku tetap agak seret untuk segera menembusnya. Luna terpekik, ketika aku menekan dan memaksakannya sekaligus. Bles..! Akhirnya masuk juga. Kudiamkan beberapa saat, karena aku ingin mencumbu dulu bibirnya. Luna tetap berontak, sampai akhirnya kehabisan tenaga. Akhirnya ia hanya diam.

Kurasakan ada air mata yang mengalir dari kedua kelopak matanya. Tetapi aku semakin bernafsu. Kuremas-remas payudaranya yang ternyata memang cukup besar dan begitu kenyal. Lalu aku mulai memompa penisku. Luna terpekik kembali. Kasihan juga, aku melihatnya. Sehingga aku bergerak perlahan-lahan, sampai akhirnya vagina Luna bisa beradaptasi dengan penisku. Luna tidak bereaksi. Ia diam saja. Namun aku sangat menikmatinya.

Walaupun Luna diam, tentunya jauh lebih nikmat dari pada melakukannya dengan patung. Aku terus memompanya, sampai napasku mulai ngos-ngosan. Kucoba menyalurkan nafasku ke arah telinga Luna. Dan hasilnya cukup bagus. Lama kelamaan, di sela isakan tangisnya, diam-diam kurasakan vaginanya diangkat, seakan Luna ingin menerima hunjaman penisku lebih dalam. Tentu saja aku semakin bersemangat. Kupompa lebih cepat lagi. Tiba-tiba isakan tangisnya berhenti, diganti dengan nafasnya yang kian memburu. Dan yang lebih mengagetkan lagi, kakinya tiba-tiba mengunci pantatku. Aku tersenyum, sambil mencumbui telinganya.

"Kau menikmatinya, sayang?" bisikku.
"Diam..!" dia membentakku. Namun aku yakin, Luna hanya tidak mau mengakui kekalahan dirinya. Buktinya, ketika penisku kucabut, Luna menekan pantatku. Tangannya pun memeluk tubuhku, agar aku merapatkannya kembali.

Lalu ada suara erangan dari bibirnya yang tertahan. Bersamaan erangan itu, kedua kakinya semakin erat menekan pantatku. Dan vaginanya ditekan pula ke atas. Aku pun sangat terangsang. Hingga detik-detik akhir pun akan segera tiba. Kupeluk erat pula tubuh Luna. Kugenjot lebih cepat dan lebih keras. Sampai akhirnya tiba pada genjotan yang terakhir. Aku tekan sangat kuat. Kugigit pelan lehernya.

"Agh.. Agh.. Agh.." Maniku keluar di dalam vaginanya. Begitupun Luna.
"Akh.. Akh.. Akh.. Ss.." begitulah yang keluar dari mulut Luna.

Lalu kemudian Luna mendorong tubuhku dan seakan menyesali dan tak mau lagi bersentuhan denganku. Baca Kisah seks lain yang tidak kalah hot dengan judul " Cerita Ngentot Selingkuh Sama Mertua Berjilbab di Desa " End - Cerita Sex Terbaru 2016, Cerita Dewasa, cerita Mesum HOT, Cerita Ngentot ABG, Mahasiswi, SPG, Model, Bispak, Tante Girang, Manager, Sekertaris, Bidan, Perawat, Pramugari, Penjaga toko, Kasir Swalayan, Guru,  Artis, Pembantu, Janda, Biduan, Perkosaan, Ngesex Memek Perawan.


Demikianlah Artikel Cerita Sex ML Dengan istri Teman Kantor

Sekian akhir dari Cerita Sex ML Dengan istri Teman Kantor, mudah-mudahan bisa meningkatkan birahi anda. baiklah, sekian postingan cerita dewasa kali ini.

Anda sedang membaca artikel Cerita Sex ML Dengan istri Teman Kantor dan artikel ini url permalinknya adalah http://asudauashica.blogspot.com/2016/04/cerita-sex-ml-dengan-istri-teman-kantor.html Semoga artikel ini bisa menghibur.
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »